Kendala Dalam Menggunakan Mesin Tanam Padi


Berkurangnya tenaga kerja dibidang pertanian adalah hal nyata yang dialami petani diberbagai wilayah, hilangnya minat generasi muda untuk berkarir di sektor pertanian adalah penyebab utama tidak adanya regenerasi pekerja di sektor ini. Maka Penggunaan Mesin Pertanian modern saat ini merupakan kebutuhan yang sudah sangat mendesak, meski dibeberapa jenis pekerjaan sudah menggunakan mesin pertanian, tapi ada beberapa  pekerjaan masih menggunakan tenaga manusia, salah satu yang belum terganti saat ini adalah proses Tanam Padi.

Pada musim tanam tahun ini Pak Mbong, petani desa Ngadirejo berkesempatan mencoba mesin tanam padi yang dimiliki oleh Gapoktan dari desa sebelah, biaya yang ditawarkan jauh lebih murah dari tanam konvensional. sebagai gambaran jika menggunakan mesin tanam padi biaya tanam 1 Ha hanya 1 juta (sudah termasuk benih dan biaya semai), sedangkan cara konvensional Rp.1.250.000 hanya untuk biaya tanam, biaya beli benih dan biaya persemaian belum termasuk.

Jadi ketika memutuskan mengunakan mesin tanam padi ini, pak Mbong hanya melakukan olah tanah saja, sementara proses pembenihan sudah dilakukan pemilik mesin tanam padi ini, benar-nenar praktis.

kendala menggunakan mesin tanam

Tetapi, kepraktisan mesin tanam padi ini sepertinya belum diimbangi dengan pengetahuan yang cukup. baik dari operator maupun pemilik sawah sendiri tentunya.Yang akhirnya memunculkan beberapa kendala dalam menggunakan mesin tanam padi

Kendala dalam menggunakan Mesin Tanam Padi tersebut adalah :
  • Mesin Tanam Padi ini hanya mampu menanam untuk bibit yang berukuran tinggi 8 cm.
  • Sistem olah tanah yang menghasilkan lumpur dengan kedalaman sekitar 20 Cm.
  • Pengapung pada kedua sisi mesin tanam padi yang cukup besar.
Ketiga hal tersebut menjadi kendala dalam penggunaan mesin tanam padi, karena lumpur hasil olah tanah yang cukup dalam (20 Cm), menyebabkan ketika mesin tanam padi ini berjalan kedua pengapung disisi kanan dan kirinya menimbulkan riak dan akhirnya bibit padi yang ketinggiannya hanya 8 Cm langsung tertimbun lumpur tanpa ampun. dan masalah lain adalah bibit yang bisa bertahan karena tidak tertutup lumpur, dengan ketinggian hanya 8 Cm harus bersaing dengan gulma (meski hal ini lebih karena olah tanahnya kurang bagus, sehingga gulma merajalela)

baca juga : Cara Praktis Tanam Padi

Pengalaman pertama Pak Mbong menggunakan Mesin Tanam Padi ini memang harus dibayar dengan biaya mahal, dengan banyaknya bibit yang tertimbun maka butuh pekerja tambahan untuk melakukan penyulaman. Meskipun begitu ada pelajaran yang berhasil diambil, dibeberapa tanah yang tidak terlalu berlumpur bibit tidak tertimbun dapat hidup dan menghasikan jumlah anakan yang luar biasa. Jadi, mungkin solusinya adalah : setelah olah tanah lahan harus didiamkan 3-4 hari sampai lumpur sedikit liat sehingga hal itu bisa mengurangi resiko bibit tertimbun lumpur. Sedangkan untuk masalah gulma yang tumbuh lebih cepat itu bisa diatasi jika olah tanahnya benar-benar rata, jadi bisa melakukan penggenangan agar gulma tidak tumbuh tapi tidak sampai menenggelamkan bibit padinya.

Meski sementara ini banyak Kendala dalam menggunakan Mesin tanam padi, tapi dengan dengan proses belajar dan inovasi pasti ke depan Mesin Tanam Padi ini akan menjadi solusi kelangkaan tenaga kerja di bidang pertanian.

Baca juga:
 Memilih varietas yang cocok untuk musim tanam ketiga
          




Advertisement
Kendala Dalam Menggunakan Mesin Tanam Padi