Showing posts with label hama tanaman padi. Show all posts
Showing posts with label hama tanaman padi. Show all posts

Varietas Padi Tahan Banjir temuan IRRI

Banjir adalah bencana alam yang kerap terjadi. Dalam pertanian, petani sering dihadapkan dengan kendala alam ini. selain curah hujan yang tinggi, sistem drainase yang kurang bagus menjadi penyebab utama terjadinya banjir di lahan pertanian. Pada usia padi yang muda ketika ketinggian tanaman masih dibawah 20 cm, resiko tanaman padi mati akibat tergenang air menjadi sangat tinggi.

Untuk mengurangi kerugian petani akibat banjir, IRRI mengembangkan varietas padi yang toleran terhadap penggenangan air lebih dari dua minggu.  

Berbagai padi yang tahan terhadap rendaman air selama dua minggu telah dikembangkan oleh IRRI. Melalui pemuliaan konvensional, ilmuwan menjelajahi banyak negara yang memiliki keragaman varietas padi untuk menemukan padi yang memiliki tolerasi tinggi terhadap penggenangan. Setelah gen (disebut gen Sub1) ditemukan, gen itu dimasukkan ke dalam varietas padi yang biasa dibudidayakan di negara-negara  Asia.

Beberapa varietas dengan "scuba" gen telah dirilis ke India, Bangladesh, Filipina, Indonesia, Myanmar, Laos, dan Nepal. Gen ini juga sedang ditransfer ke varietas populer di Afrika. Meski IRRI telah menemukan Varietas padi tahan banjir tapi masih perlu banyak waktu untuk mengembangkan menjadi sesuai yang diharapkan.

Cara Terbaru Mengendalikan Hama Burung Pada Tanaman Padi

JIka petani China menggunakan kaset CD untuk mengusir hama burung pada tanaman padi, maka beda dengan petani di Desa Ngadirejo. Petani di desa Ngadirejo, sebuah desa di Kabupaten Nganjuk memiliki Cara Terbaru Mengendalikan Hama Burung Pada Tanaman Padi. 

Tidak bisa dipungkiri bahwa burung merupakan salah satu hama yang paling menggangu selama proses budidaya tanaman padi, jika dibiarkan resiko kerugian akibat hama burung ini bisa mencapai 60 %. (pengalaman pribadi). saat itu padi yang saya tanam lebih cepat berbuah dibanding padi disekitarnya maka otomatis seluruh burung terkonsentrasi di lahan tanaman padi saya.

Hal serupa juga dialami petani lain, terutama karena beberapa tahun terakhir petani desa Ngadirejo mulai membudidayakan padi pada musim tanam ketiga (antara bulan September sampai november) dan saat itu hampir tak ada tanaman padi di wilayah lain. bisa dibayangkan berapa banyak burung yang datang mencari makan di lahan tanaman padi kami.

Sebelum menggunakan Cara Terbaru Mengendalikan Hama Burung Pada Tanaman Padi, petani desa Ngadirejo juga menggunakan cara tradisional untuk mengusir hama burung yaitu dengan menggunakan buni-bunyian. Tapi cara itu tidak efektif jika serangan bukan hanya ratusan burung tapi ribuan. selain bunyi-bunyian pernah petani desa Ngadirejo menggunakan jasa penangkap Hama Burung. cara kerjanya adalah sebuah jaring dibentangkan vertikal sepamjang lahan tanaman padi, jika gerombolan burung sudah berkumpul di lahan dan menikmati sedapnya padi yang baru berisi si penangkap Burung menggunakan sejenis peluit yang bisa menirukan suara burung Predator, kontan saja para burung yang lagi menikmati makan pagi terbang berhamburan tanpa sempat berpikir dan terjebaklah mereka di jaring yang sudah dipasang.

Hanya saja cara ini tidak bertahan lama, karena masalah muncul ketika burung yang tertangkap jumlahnya ribuan, ada yang dengan teganya mengeleminasi burung-burung tersebut. 

Akhirnya dengan tetap menggunakan jaring yang sama, tapi kali ini jaring dibentangkan diseluruh lahan untuk menutupi tanaman padi, Cara Terbaru Mengatasi Hama Burung Pada Tanaman Padi ini lebih efisien karena begitu dipasang tidak perlu lagi ada penunggu, dan tidak burung yang ditangkap maka lebih ramah lingkungan dan tidak perlu mengeleminasi burung, hanya satu masalah nya jika menggunakan Cara Terbaru Mengatasi Hama Burung Pada Tanaman Padi, setelah jaring terpasang maka perawatan padi akan sulit karena tertutup jaring. jadi pastikan terapakan Pengelolaan Tanaman Terpadu untuk meminimalisir hama lain.

Alat dan bahan untuk menerapkan Cara Terbaru Mengatasi Hama Burung Pada Tanaman Padi:
  • Jaring nylon yang belinya di toko alat pancing, dengan harga Rp 20.000 untuk ukuran 2x20 meter pada tahun 2013
  • tiang kecil sebagai penyangga
  • tali

mengendalikan hama burung pada tanaman padi

Mungkin pada awalnya biaya yang dikeluarkan sangat besar, pada tahun 2013 saja perhektar dibutuhkan dana kurang lebih Rp.6.000.000 sudah termasuk biaya pasang. Tapi jika perawatan jaringnya baik maka bisa berumur lebih dari 4 Tahun, tentu pada akhirnya biaya yang dikeluarkan untuk mengendalikan hama burung Jauh lebih murah.

Demikian Cara Terbaru Mengendalikan Hama Burung Pada Tanaman Padi. semoga bermanfaat.

Mengendalikan Hawar Daun Bakteri pada Tanaman Padi


hawar daun bakteri

Jika anda menemukan tanaman padi yang muda pada saat fase awal pertumbuhan tiba-tiba layu dan akhirnya mati. Begitu juga jika anda menemukan tanaman padi yang telah dewasa tepi daunya berwarna keabu-abuan dan akhirnya mengering. Kemungkinan besar tanaman padi anda terserang penyakit hawar daun bakteri (HDB).


Tanaman padi yang terserang penyakit hawar daun bakteri (HDB) pada fase awal pertumbuhan, tanaman layu dan akhirnya mati. Gejala inilah yang biasanya oleh petani disebut dengan penyakit kresek. Sedangkan pada tanaman dewasa serangan mulai dari tepi daun berwarna keabu-abuan dan akhirnya mengering sehingga tanaman tidak dapat berfotosintesisi dengan baik sehingga pertumbuhan tanaman terganggu. Apabila serangan pada saat tanaman berbunga, hawar daun bakteri ini dapat menyebabkan kerugian yang sangat besar dengan mengurangi hasil sampai 50-70% akibat pengisian gabah terhambat sehingga gabah hampa meningkat.
Penyakit hawar daun bakteri (HDB) ini disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv.oryzae. Bakteri patogen ini biasa disebut juga dengan patogen Xoo. Di masyarakat secara umum penyakit hawar daun bakteri ini disebut juga sebagai penyakit kresek. Mungkin tanaman yang terserang penyakit hawar daun bakteri ini bunyinya kresek-kresek pada saat tertiup angin, sehingga untuk memudahkan akhirnya disebut sebagai penyakit kresek.
Serangan penyakit hawar daun bakteri ini menyerang tanaman padi mulai dari persemaian sampai tanaman padi menjelang panen. Infeksi dimulai dari bagian daun melalui luka seperti bekas potongan bibit padi atau lubang alami daun seperti stomata (lubang daun) dan merusak klorofil daun, sehingga kemampuan daun untuk melakukan fotosintesis menjadi menurun dan pertumbuhan tanaman terhambat.
Penyakit hawar daun bakteri (HDB) ini biasanya menyerang tanaman padi pada saat musim hujan. Kondisi pertanaman dengan kelembaban yang tinggi dan pemupukan yang tidak berimbang dengan dosis pupuk nitrogen yang tinggi.
Menanam Varietas Padi Tahan Hawar Daun Bakteri (HDB)
Pengendalian Hawar Daun Bakteri (HDB) dengan menanam varietas yang tahan dilakukan dengan cara menanam varietas-varietas padi yang tahan terhadap serangan penyakit hawar daun bakteri ini. Pada saat ini sudah ada beberapa varietas padi yang tahan pada beberapa strain / patotipe hawar daun bakteri . Tingkat ketahananan terhadap hawar daun bakteri ini bervariasi antara agak tahan dan tahan.
Varietas - varietas padi yang agak tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri ini antara lain Ciliwung, Fatmawati, Mekongga dan Aek Sibundoong (patotipe IV),Widas, Rokan dan Hipa 3 ( patotipe III dan IV), Ketonggo, Ciherang, Inpari 2 dan Inpari 3 (patotipe III), Tukad Unda dan Tukad Petanu (patotipe VIII), Hipa 4, Hipa 5 Ceva, Hipa 6 Jete (patotipe IV dan VIII), Inpari 1 dan Inpari 6 Jete (patotipe III, IV dan VIII).
Sedangkan varietas padi yang tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri (HBD) ini antara lain Memberamo, Cibodas, Maros, Sintanur, Wera, (patotipe III), Way Apo Buru, Singkil, Konawe, Intani, Sunggal, Ketan Hitam (patotipe III dan IV), Code, Angke, Ciujung, Inpari 1, Inpari 6 Jete (patotipe III, IV dan VIII) .
Namun menanam varietas tahan juga harus dilakukan secara hati-hati. Strain / patotipe penyakit hawar daun bakteri cepat sekali membentuk strain/patotipe baru yang lebih ganas (virulen). Sehingga tingkat ketahanan padi varietas tahan hawar daun bakteri terhadap serangan bakteri Xanthomoasn sp penyebab HDB juga menjadi tidak bertahan lama. Selain itu varietas tahan yang ditanam pada suatu wilayah tertentu bisa menjadi varietas yang rentan jika ditanam pada wilayah lainya, hal ini disebabkan karena strain / patotipe HDB ini cepat bergeser dari wilayah yang satu ke wilayah yang lain.
Pengendalian Hawar Daun Bakteri (HDB) Dengan teknik budidaya.
Pengendalian penyakit hawar daun bakteri dilakukan secara terpadu dengan menggunakan teknik budidaya. Beberapa teknik budidaya yang disarankan antara lain dengan perlakuaan bibit dan pergiliran varietas, menanam dengan jarak tanam yang tidak terlalu rapat, irigasi / pengairan secara berselang (intermeten), pemupukan sesuai kebutuhan tanaman dan menanam varietas tahan.
Perlakukan bibit dilakukan dengan cara jangan menanam bibit yang dipotong akar atau daunya terlebih dulu sebab akan mempermudah infeksi bakteri Xoo.. Strain / Patogen HBD ini biasanya menginfeksi melalui luka bekas potongan pada bibit padi yang ditanam.
Penyakit hawar daun bakteri ini dipicu juga oleh keadaan lingkungan sekitar pertanaman dengan kelembaban yang tingi. Oleh karena untuk menekan perkembangan HBD ini dilakukan dengan menanam padi dengan jarak yang tidak terlalu rapat. Pengairan dilakukan secara berselang (intermiten) sesuai dengan fase pertumbuhan tanaman dan jangan menggenangi tanaman padi secara terus menerus.
Hawar daun bakteri juga berkembang pada tanaman padi yang dipupuk dengan pupuk Nitogen dengan dosis yang tinggi tanpa diimbangi dengan pupuk Kalium. Pupuk Nitrogen yang tinggi akan memacu pertumbuhan vegetatif tanaman namun tanaman kurang tahan terhadap infeksi bakteri patogen Xoo. Oleh karena itu untuk menekan perkembangan hawar daun bakteri ini harus pemupukan tanaman padi harus dilakukan secara berimbang. Pupuk Nitrogen yang diaplikasikan harus diimbangi dengan aplikasi pupuk Kalium.
Sedangkan pengendalian hawar daun bakteri dengan aplikasi bahan kimia dapat dilakukan dengan bakterisida. Namun penggunaan bakterisida ini harus dilakukan secara bijaksana dan sesuai dengan rekomendasi setempat.
Ditulis Oleh : Saeful Hodijah,S.ST (Admin Kab. Bogor)
Sumber: BBPadi Sukamandi

MENGENAL HAMA PENGGEREK BATANG PADI (SUNDEP/BELUK)


cara penggerek batang padi

Hama Penggerek batang padi merupakan hama penting tanaman padi karena jika menyerang fase vegetatif mereka mematikan titik tumbuh sehingga mengurangi jumlah anakan dan jika menyerang fase generatif hama ini secara nyata merusak malai sehingga mengurangi jumlah malai yang dapat dipanen.
Terdapat empat spesies hama penggerek batang padi yaitu:
1. Penggerek batang padi kuning (Scirpophaga incertulas)
2. Penggerek batang padi putih (Scirpophaga innotata)
3. Penggerek batang padi bergaris ( Chilo supressalis)
4. Penggerek batang padi merah jambu (Sesamia inferens)

Imago aktif pada malam hari dan terbang kesawah untuk meletakkan telur. Pada siang hari mereka hanya berdiam diri dan bersembunyi dibalik daun padi atau gulma disekitar tanaman. Penggerek batang padi mampu terbang sejauh 2 km. Imago sangat tertarik pada cahaya dan mudah tertangkap oleh lampu perangkap saat malam gelap. Betinanya mampu bertelur hingga 200-300 butir dalam masa hidupnya selama 4 hari.
Telur diletakkan berkelompok, terdiri dari 5-200 butir per kelompok pada daun atau seludang daun. Bentuk telur, kelompok telur, dan tempat meletakkan telur bervariasi sesuai dengan spesiesnya.
Larva yang baru ditetaskan sering menggantungkan tubuhnya pada daun padi dengan benang sutera dan bila tertiup angin akan berpindah ke tanaman lainnya. Mereka kadang-kadang juga membuat tabung dari potongan daun, lalu menjatuhkan diri ke air dan berenang ke tanaman lain. Larva muda memakan daun atau seludang daun. Larva-larva instar selanjutnya masuk keseludang daun dan makan diantara seludang daun dan tangkai malai beberapa hari sebelum masuk kedalam batang. Larva yang lebih tua masuk kedalam batang dan makan pada bagian dalam batang di dekat pangkalnya. Larva instar terakhir didalam batang dapat bergerak turun kebawah permukaan tanah untuk berdiapose kalau keadaan tidak menguntungkan.
Pupa terbentuk didalam batang beberapa centimeter dibawah permukaan tanah. Imago keluar dari pupa dan merangkak keluar dari lobang keluar yang telah dibuat sebelumnya oleh larva sebelum menjadi pupa.
Kalau serangan terjadi pada vase vegetatif maka daun tengah atau pucuk tanaman mati karena titik tumbuh dimakan. Pucuk yang mati akan berwarna coklat dan mudah dicabut. Gejala ini biasa disebut sebagai SUNDEP. Kalau serangan terjadi pada fase generatif, maka malai akan mati karena pangkalnya dikerat oleh larva. Malai yang mati akan tetap tegak berwarna abu-abu putih dan bulirnya hampa. Malai ini mudah dicabut dan pangkalnya terdapat bekas gigitan larva. Gejala serangan pada tahap ini disebut BELUK.
Di Indonesia Penggerek Batang Padi merupakan salah satu hama utama tanaman padi yang dapat menyebabkan kerusakan dan kehilangan hasil. Sampai saat ini di Indonesia telah dikenal enam jenis penggerek batang padi, yaitu penggerek batang padi kuning (Scirpophaga incertulas Walker (Pyralidae)), Penggerek batang padi putih (S. innotata Walker (Pyralidae)), Penggerek batang padi merah jambu (Sesamia inferens Walker (Noctuidae), Penggerek batang padi bergaris (Chilo suppressalis Walker (Pyralidae)), Penggerek padi berkepala hitam (C. polychrysus Meyrick (Pyralidae)) dan Penggerek padi berkilat (C. auricilius Dudgeon (Pyralidae)).
Penggerek S. incertulas merupakan jenis yang paling luas penyebarannya dan paling dominan di Jawa, Bali, Lampung dan kalimantan Selatan, kemudian diikuti oleh jenis S. inferens, C. suppressalis dan S. innotata.
Sejak tahun 1912, penggerek batang padi putih dinyatakan sebagai jenis hama padi yang paling merusak di Pulau Jawa. Selama periode 40 tahun (1900 - 1940) tercatat terjadi eksplosi penggerek padi putih sebanyak 9 kali, kemudian eksplosi yang cukup luas terjadi lagi pada tahun 1990 di Jawa Barat, yakni di kabupaten Indramayu, Subang dan Karawang.
Penggerek batang padi mempunyai daerah sebar yang luas. Penyebaran penggerek ini terutama di daerah tropika dengan aktivitas ngengat penggerek mencapai puncaknya pada suhu 21.6 - 30,6 OC, dengan kelembaban nisbi 82.7 % dan peletakkan telur mencapai maksimum pada hari-hari hujan dengan suhu tinggi.
Angin membantu penyebaran ngengat dan larva. Larva yang baru keluar dari telur menggantungkan diri dengan benang sutera halus pada daun padi sebagai alat pindah ke pertanaman lainnya.
Pada daerah dimana terdapat pola pertanaman padi lebih dari satu kali setahun, hama ini menjadi penting artinya karena periode tersedianya makanan yang cukup panjang.
Ditulis : Saeful Hodijah, S.ST (Admin kab Bogor)
Submer : BBPadi Sukamandi

Manfaat Bacillus sp Untuk Pertanian


Bacillus sp. merupakan salah satu kelompok bakteri gram positif yang sering digunakan sebagai pengendali hayati penyakit akar. Anggota genus ini memiliki kelebihan, karena bakteri membentuk spora yang mudah disimpan, mempunyai daya tahan hidup lama, dan relatif mudah diinokulasi ke dalam tanah. Bacillus sp. telah terbukti memiliki potensi sebagai agens pengendali hayati yang baik, misalnya terhadap bakteri patogen seperti R. solanacearum (Soesanto, 2008).
Bacillus sp. dapat menghasilkan fitohormon yang berpotensi untuk mengembangkan sistem pertanian berkelanjutan. Fitohormon yang dihasilkan bakteri tanah ini dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara tidak langsung fitohormon dari bakteri menghambat aktivitas patogen pada tanaman, sedangkan pengaruh secara langsung fitohormon tersebut adalah meningkatkan petumbuhan tanaman dan dapat bertindak sebagai fasilitator dalam penyerapan beberapa unsur hara dari lingkungan (Greenlite, 2009).

filtrasi steril dari kultur Bacillus subtilis diaplikasikan tiga kali seminggu mengendalikan penyakit karat pada tanaman kacang dilapangan nyata lebih baik dari fungisida mancozeb dengan aplikasi satu kali seminggu.

Fungsi Bacillus spp. (seperti Bacillus subtillis) antara lain dapat mengendalikan penyakit layu bakteri pada kentang dan meningkatkan hasil umbi kentang sampai 160%. Bacillus spp. dapat mengendalikan penyakit lincat pada tembakau dan penyakit layu bakteri pada biji tomat yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum pada tanaman tembakau
thank Bagus DW

Jenis Pestisida Dan Penggunaannya


aplikasi pestisida

Sebuah artikel menarik tentang pestisida, yang saya copy dari sebuah situs. Semoga bisa memberi sedikit gambaran tentang jenis-jenis pestisida dan cara penggunaannya yang tepat dan aman.
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pembasmi hama atau Pestisida adalah bahan yang digunakan untuk mengendalikan, menolak, memikat, atau membasmi organisme pengganggu. Nama ini berasal dari pest ("hama") yang diberi akhiran cide ("pembasmi"). Sasarannya bermacam-macam, seperti serangga, tikus, gulma, burung, mamalia, ikan, atau mikrobia yang dianggap mengganggu. Pestisida biasanya, tapi tak selalu, beracun. Dalam bahasa sehari-hari, pestisida seringkali disebut sebagai "racun" tergantung dari sasarannya. 

Gangguan pada tanaman bisa disebabkan oleh faktor abiotik maupun biotik. Faktor abiotik diantaranya keadaan tanah (struktur tanah, kesuburan tanah, kekurangan unsur hara) ;  tata air (kekurangan, kelebihan, pencemaran air) ; keadaan udara (pencemaran udara) dan faktor iklim. Gangguan dari faktor abiotik bisa diatasi dengan tindakan pengoreksian atau tidak bisa dikoreksi dengan penggunaan pestisida. Sedangkan faktor abiotik yang menyebabkan gangguan pada tanaman atau biasa disebut dengan organisme pengganggu tanaman (OPT). OPT dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu : Hama (serangga, tungau, hewan menyusui, burung dan moluska) ; Penyakit (jamur, bakteri, virus dan nematoda) dan Gulma (tumbuhan pengganggu). Gangguan yang disebabkan oleh OPT inilah yang bisa dikendalikan dengan pestisida.

Berdasarkan OPT sasarannya, pestisida dikelompokkan menjadi :
INSEKTISIDA, digunakan untuk mengendalikan serangga (insec).
FUNGISIDA, digunakan untuk mengendalikan penyakit tanaman yang disebabkan oleh cendawan (jamur atau fungi).
HERBISIDA, digunakan untuk mengendalikan gulma (tumbuhan pengganggu).
AKARISIDA, digunakan untuk mengendalikan akarina (tungau atau mites).
MOLUSKISIDA, digunakan untuk mengendalikan hama dari bangsa siput (moluska).
RODENTISIDA, digunakan untuk mengendalikan hewan pengerat (tikus).
NAMATISIDA, digunakan untuk mengendalikan nematoda.
BAKTERISIDA, digunakan untuk mengendalikan penyakit tanaman yang disebabkan oleh bakteri.
ALGASIDA, digunakan untuk mengendalikan ganggang (algae).
PILKISIDA, digunakan untuk mengendalikan ikan buas.
AVISIDA, digunakan untuk meracuni burung perusak hasil pertanian.
REPELEN, pestisida yang tidak bersifat membunuh, hanya mengusir hama.
ATRAKTAN, digunakan untuk menarik atau mengumpulkan serangga.
ZPT, digunakan untuk mengatur pertumbuhan tanaman yang efeknya bisa memacu pertumbuhan atau menekan pertumbuhan.
PLANT ACTIVATOR, digunakan untuk meransang timbulnya kekebalan tumbuhan sehingga tahan terhadap penyakit tertentu.

Cara kerja pestisida dapat dibedakan menjadi :
1. Pestisida Kontak, berarti mempunyai daya bunuh setelah tubuh sasaran terkena pestisida.
2. Pestisida Sistemik, berarti dapat ditranslokasikan ke berbagai bagian tanaman melalui jaringan. Hama akan mati kalau mengisap cairan tanaman.
3. Pestisida Lambung, berarti mempunyai daya bunuh setelah jasad sasaran memakan pestisida.
4. Pestisida Fumigan, berarti mempunyai daya bunuh setelah jasad sasaran terkena uap atau gas.

Penggunaan Pestisida secara bijaksana adalah penggunaan pestisida yang memperhatikan prinsip 5 (lima) tepat, yaitu :
1. Tepat Sasaran, tentukan jenis tanaman dan hama sasaran yang akan dikendalikan, sebaiknya tentukan pula unsur-unsur abiotis dan biotis lainnya.
2. Tepat Jenis, setelah diketahui hasil analisis agro ekosistem, maka dapat ditentukan pula jenis pestisida apa yang harus digunakan, misalnya : untuk hama serangga gunakan insektisida, untuk tikus gunakan rodentisida. Pilihlah pestisida yang paling tepat diantara sekian banyak pilihan, misalnya : untuk pengendalian hama ulat grayak pada tanaman kedelai. Berdasarkan Izin dari Menteri Pertanian tersedia ± 150 nama dagang insektisida. Jangan menggunakan pestisida tidak berlabel, kecuali pestisida botani racikan sendiri yang dibuat berdasarkan anjuran yang ditetapkan sesuai pilihan tersebut dengan alat aplikasi yang dimilki atau akan dimilki.
3. Tepat Waktu, waktu pengendalian yang paling tepat harus di tentukan berdasarkan :
a. Stadium rentan dari hama yang menyerang tanaman, misalnya stadium larva instar I, II, dan III.
b. Kepadatan populasi yang paling tepat untuk dikendalikan, lakukan aplikasi pestisida berdasarkan Ambang Kendali atau Ambang Ekonomi.
c. Kondisi lingkungan, misalnya jangan melakukan aplikasi pestisida pada saat hujan, kecepatan angin tinggi, cuaca panas terik.
d. Lakukan pengulangan sesuai dengan waktu yang dibutuhkan.
4. Tepat Dosis / Konsentrasi, gunakan konsentrasi/dosis yang sesuai dengan yang dianjurkan oleh Menteri Pertanian. Untuk itu bacalah label kemasan pestisida. Jangan melakukan aplikasi pestisida dengan konsentrasi dan dosis yang melebihi atau kurang dari yang dianjurkan, karena dapat menimbulkan dampak negatif.
5. Tepat Cara, lakukan aplikasi pestisida dengan cara yang sesuai dengan formulasi pestisida dan anjuran yang ditetapkan.