5 Alasan Harga Panen Padi Murah

Sudah menjadi bumbu dalam bertani jika harga jual saat panen selalu berfluktuasi, tinggi diawal jatuh kemudian. Meski sebenarnya harga jual ke konsumen relatif stabil. berikut 5 alasan yang sering digunakan tengkulak agar dapat membeli hasil panen  petani dengan murah:

1. Gudang Penuh
Tidak semua Tengkulak menjual langsung ke konsumen, mereka kadang masih setor ke pengepul yang lebih besar, nah ini yang biasanya dijadikan tengkulak sebagai alasan membeli dengan harga murah.
  
2. Tanaman kurang sehat 
Meski sekarang penggunaan pestisida dalam pertanian sudah menjadi hal yang lazim, tetapi untuk menghasilkan tanaman sehat bebas dari serangan hama penyakit masih merupakan idaman banyak petani. Jadi jika tanaman terkena serangan hama penyakit, bisa dipastikan akan menurunkan nilai jual, meski terkadang serangannya tidak terlalu parah.

3. Padi Terlalu Basah
Basah karena hujan, embun atau jika berkaitan dengan padi, basah karena roboh dan lahannya sedang tergenang air.  Sedihnya lagi jika petaninya tidak punya lantai pengering, pasti pilihanya ya harus dijual meski harganya gak sesuai dihati.

4. Varietas Padi
Beberapa varietas padi memiliki karakteristik yang kurang menarik harga jualnya, seperti beras patah, beras berkapur, kulit terlalu tebal yang berdampak pada berkurangnya hasil saat diproses menjadi beras. Untuk masalah yang satu ini kadang bukan saja harga jualnya yang turun lebih ekstrim kadang tengkulak tidak mau membeli. Sedih banget jika ini terjadi.
5. Matahari Enggan Bersinar
Di musim penghujan pasti ada kalanya matahari harus tertutup mendung, hal ini tentu akan membuat proses pengeringan hasil panen jadi bertambah lama dan tentu saja akan menambah biaya pengeringan. Pasti ini jadi alasan paling klasik untuk dapat menurunkan harga beli hasil panen. Dan petani yang tidak punya lantai pengering, pasti pasraah dengan tawaran yang diberikan oleh tengkulak.

hasil panen padi
Itulah 5 alasan yang paling sering digunakan tengkulak agar dapat memperoleh hasil panen dengan harga rendah.

No comments:

Post a Comment