Strategi Menjual Hasil Panen

Menjual hasil panen, merupakan tantangan tersendiri dalam usaha pertanian dan untuk memperoleh harga terbaik maka ada strateginya. Terlebih dengan begitu dinamisnya pasar produk pertanian. Sebenarnya jika panen pada musim kemarau kendala dalam penjualan hampir tidak ada, dengan kondisi hasil panen yang relatif sudah kering maka petani bisa menahan hasil panennya jika harga belum sesuai.

Permasalahannya adalah jika panen tepat saat musim penghujan, dan kebetulan petaninya tidak punya lantai pengering yang ideal. Maka dipastikan petani akan mudah menyerah dengan harga yang ditawarkan oleh tengkulak.


Tetapi sebenarnya menjual dengan kondisi basah dengan harga murah tidak selamanya merugikan jika dibanding dengan menjual dalam kondisi kering dengan harga yang sedikit lebih tinggi. dikalangan petani jika selisih antar harga gabah basah dan kering giling hanya Rp. 1000 maka petani akan lebih untung jika dijual dalam kondisi basah. dengan perhitungan, pada panen musim penghujan penyusutan berat dari kondisi basah dan kondisi kering setelah dijemur rata-rata 20% ditambah dengan biaya tenaga saat proses pengeringan dipastikan hasilnya akan sama jika gabah dijual dalam kondisi basah. Tetapi, akan berbeda jika petani berniat menyimpan untuk waktu yang lama, maka kemungkinan mendapat nilai jual yang lebih tinggi menjadi sangat besar. Tentu saja proses penyimpanan gabah pun petani paling lama 2-3 bulan karena, selain kendala tikus akibat sistem perrgudangan yang masih sederhana, dalam waktu 2-3 bulan setelah panen merupakan harga tertinggi yang bisa diperoleh petani. Dan setelahnya harga gabah panenan lama akan turun seiring adanya gabah hasil panen baru.

Dari sedikit gambaran diatas harus diakui petani yang tradisionalpun sudah mengenal sedikit tentang strategi bisnis untuk memperoleh hasil terbaik dari produk pertaniannya, hanya saja campur tangan pemerintah dalam menjaga kestabilan harga masih sangat diperlukan. 

"Selain hama dan bencana, turunnya harga saat panen adalah faktor yang menyebabkan petani merugi"



Desain Lantai Pengering Padi yang Ideal

Pengeringan hasil panen merupakan proses yang sangat penting dari suatu usaha pertanian, dalam kondisi basah (apalagi panen saat musim penghujan) harga jual produk pertanian sepenuhnya ditentukan oleh tengkulak. bagi petani yang tidak bisa melakukan pengeringan, pilihan menjual hasil panen dengan harga murah lebih menguntungkan daripada hasil panennya rusak karena proses pengeringan yang tidak maksimal.
Proses pengeringan yang baik juga berpengaruh terhadap proses pengolahan hasil pertanian selanjutnya. Jika dalam hal ini adalah tanaman padi, pengeringan yang baik akan memperkecil resiko beras patah saat proses penggilingan. Dan sekali lagi adalah meningkatnya harga jual pada produk pertanian tersebut.
Melihat pentingnya proses pengeringan dalam usaha pertanian, maka bagi petani tradisional kebutuhan akan lantai pengering merupakan salah satu hal yang cukup vital, mengingat sampai saat ini proses pengeringan hasil panen pertanian sepenuhnya masih bergantung dengan panas matahari.

Beberapa hal yang harus diperhatikan saat akan membagun lantai pengering,
  1. Idealnya dalam membagun lantai pengering dipilih lokasi yang minim halangan sehingga cahaya Matahari dapat menyinari lebih lama.
  2. Untuk desain diupayakan pada tengah lantai pengering dibuat lebih tinggi sehingga ketika hujan air tidak menggenangi hasil panen yang telah dikumpulkan.
  3. Lantai pengering sebaiknya dibuat memanjang, hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pengumpulan.
Berikut ini gambar sederhana desain lantai pengering yang bisa dijadikan acuan dalam membangun lantai pengering yang ideal. Untuk ukuran bisa disesuaikan dengan ketersedian lahan yang akan dibangun.

Kendala Pasca Panen Padi (Pengeringan)

Seperti pada postingan sebelumnya tentang 5 Alasan Harga Panen Padi Murah dimana salah satu kendala dalam bertani adalah pengolahan pasca panen. seperti pada musim penghujan saat ini, matahari yang tiap harinya lebih sering tertutup mendung. Tentu untuk mengeringkan Padi hasil panen butuh waktu ekstra dan tenaga ekstra yang berarti biaya ekstra.

Sebagai gambaran, untuk mengeringkan 1 ton padi dari kondisi Kering Panen sampai Kering Giling diperlukan lantai pengering seluas 80 meter persegi dengan waktu penjemuran kurang lebih 10 jam dan diperlukan pembalikan gabah tiap satu jam untuk membantu proses pengeringan.
Tentu bisa dibayangkan jika kondisi awal gabah lebih basah, lantai pengering lebih sempit dan matahari enggan bersinar tentu waktu yang dibutuhkan akan lebih lama. Dan berita gembiranya tidak semua petani memiliki lantai pengering yang memadai'

Sebenarnya beberapa hal telah dilakukan petani agar kerugian yang diakibatkan kurang maksimalnya proses pengeringan bisa diminimalisir ;
  1. Menjemur di Jalan aspal; Ini solusi mudah bagi petani yang tidak memiliki lantai pengering sendiri. mengganggu lalulintas? mungkin, tapi selama ini belum ada keluhan yang disebabkan penggunaan jalan untuk menjemur gabah.
  2. Memulai panen lebih siang, tujuan memulai panen setelah matahari bersinar adalah embun atau air yang ada di padi bisa berkurang. Tentu hal ini bukan hal yang mudah karena kebanyakan pekerja akan memulai pekerjaannya sepagi mungkin agar memanen padi lebih banyak.
Permasalahan yang terjadi saat pasca panen, bukanlah hal baru tetapi permasalahan klasik yang tidak pernah ada niat untuk dicari solusinya. Dan pola pikir petani sendirilah yang menghambat proses penyerapan teknologi terbaru dibidang pertanian. Ketika negara lain sudah memiliki pusat pengeringan padi dengan bantuan mesin, sementara bagi petani kita (contohnya saya), mengeringkan padi dengan mesin masih dalam daftar tunggu untuk dihayalkan.

proses pengeringan padi tradisional
Seperti gambar diatas, merupakan proses pengeringan padi yang mengandalkan panas matahari, yang merupakan metode warisan leluhur, sedangkan gambar dibawah adalah pusat pengeringan padi yang diambil dari situs http://www.fftc.agnet.org

mesin pengering padi

5 Alasan Harga Panen Padi Murah

Sudah menjadi bumbu dalam bertani jika harga jual saat panen selalu berfluktuasi, tinggi diawal jatuh kemudian. Meski sebenarnya harga jual ke konsumen relatif stabil. berikut 5 alasan yang sering digunakan tengkulak agar dapat membeli hasil panen  petani dengan murah:

1. Gudang Penuh
Tidak semua Tengkulak menjual langsung ke konsumen, mereka kadang masih setor ke pengepul yang lebih besar, nah ini yang biasanya dijadikan tengkulak sebagai alasan membeli dengan harga murah.
  
2. Tanaman kurang sehat 
Meski sekarang penggunaan pestisida dalam pertanian sudah menjadi hal yang lazim, tetapi untuk menghasilkan tanaman sehat bebas dari serangan hama penyakit masih merupakan idaman banyak petani. Jadi jika tanaman terkena serangan hama penyakit, bisa dipastikan akan menurunkan nilai jual, meski terkadang serangannya tidak terlalu parah.

3. Padi Terlalu Basah
Basah karena hujan, embun atau jika berkaitan dengan padi, basah karena roboh dan lahannya sedang tergenang air.  Sedihnya lagi jika petaninya tidak punya lantai pengering, pasti pilihanya ya harus dijual meski harganya gak sesuai dihati.

4. Varietas Padi
Beberapa varietas padi memiliki karakteristik yang kurang menarik harga jualnya, seperti beras patah, beras berkapur, kulit terlalu tebal yang berdampak pada berkurangnya hasil saat diproses menjadi beras. Untuk masalah yang satu ini kadang bukan saja harga jualnya yang turun lebih ekstrim kadang tengkulak tidak mau membeli. Sedih banget jika ini terjadi.
5. Matahari Enggan Bersinar
Di musim penghujan pasti ada kalanya matahari harus tertutup mendung, hal ini tentu akan membuat proses pengeringan hasil panen jadi bertambah lama dan tentu saja akan menambah biaya pengeringan. Pasti ini jadi alasan paling klasik untuk dapat menurunkan harga beli hasil panen. Dan petani yang tidak punya lantai pengering, pasti pasraah dengan tawaran yang diberikan oleh tengkulak.

hasil panen padi
Itulah 5 alasan yang paling sering digunakan tengkulak agar dapat memperoleh hasil panen dengan harga rendah.