Postingan Menarik

Budidaya Jagung


Jagung merupakan bahan makanan pokokbahan pakan ternak dan bahan baku industriPetani di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah lama membudidayakan jagung. Dinas Pertanian dan Kehutanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (2008), menyatakan bahwa luas tanam jagung di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencapai 904 Ha. Meskipun demikian, tingkat produtivitas hanya mencapai 3,01 ton/ha/tahun. Rendahnya produktivitas ini disebabkan teknik pemupukan, pemangkasan, pengendaliam hama penyakit yang diterapkan belum sesuai dengan teknologi anjuran.


Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan berbagai teknologi budidaya. Salah satu teknologi tersebut adalah teknologi budidaya jagung. Penerapan teknologi budidaya jagung; mulai dari persiapan lahan, penanaman, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, dan panen, diharapkan dapat meningkatkan produktivitas jagung dan pendapatan petani.
Benih
Kebutuhan  benih jagung per hektar berkisar antara 15−20 Kg  tergantung dari ukuran benih. Untuk menghindari serangan penyakit bulai maka perlu adanya perlakuan benih. Benih diperlakukan sesaat sebelum penanaman. Caranya, 2 gram metalaksil dilarutkan dalam 10 ml air. Larutan tersebut dicampur dengan 1 kg benih dan diaduk  hingga merata, lalu dikering anginkan.Benih jagung yang umumnya dijual dalam kemasan biasanya sudah diperlakukan dengan metalaksil (warna merah) sehingga tidak perlu lagi diberi perlakuan benih.
Penyiapan Lahan
Lahan dibersihkan terlebih dahulu dari gulma yang tumbuh di areal yang akan ditanami. Lahan dapat dibersihkan dengan menggunakan sabit, parang, atau menggunakan herbisida. Setelah lahan bebas dari tumbuhan pengganggu, dilakukan pengolahan tanah dengan bajak yang ditarik dengan sapi atau traktor, diikuti dengan garu serta perataan sampai lahan siap ditanami.
Penanaman
Buat lubang dengan cara ditugal sedalam 5 cm. Jarak tanam yang dianjurkan yaitu
· Jarak tanam 70 cm x 20 cm dengan 1 benih per lubang tanam.
· Jarak tanam 75 cm x 40 cm dengan 2 benih per lubang tanam.
Masukkan benih ke dalam lubang dan tutup dengan pupuk kandang, dengan dosis 1,53 ton/ha atau 1-2 gengam (± 50 gr)  tiap lubang.
Pemupukan
Dosis pemupukan jagung adalah Urea 350 kg/ha, SP36 100−150 kg/ha dan KCI 100 kg/ha. Pupuk diberikan dengan cara ditugal sedalam 5 cm dengan jarak 10 cm dari batang tanaman dan ditutup dengan tanah. Pemupukan dapat dilakukan dengan pupuk majemuk NPK seperti pada Tabel 1 dan Tabel 2.
Tabel 1.      Takaran pupuk dan waktu pemberiannya pada tanaman, bila menggunakan pupuk tunggal urea, SP36 dan KCI
Waktu Pemberian
Urea
(Kg/ha)
SP36
(Kg/ha)
KCI
(Kg/ha)
0-7 HST
100
150
100
30 – 35 HST
150
-
-
45 – 50 HST(BWD)
100-150
-
-
Keterangan  HST     : Hari Setelah Tanam
                      BWD    : Bagan Warna Daun


Tabel 2.      Takaran pupuk dan waktu pemberiannya pada tanaman jagung bila menggunakan pupuk NPK15:15:16 (Phoska)
Waktu Pemberian
Urea
(Kg/ha)
Phoska
(Kg/ha)
7 HST
-
350
28 – 30 HST
150
-
45 – 50 HST (BWD)
100-150
-
Keterangan  HST    : Hari Setelah Tanam
                       BWD  : Bagan Warna Daun


Bagan Warna Daun (BWD) hanya digunakan pada pemberian pupuk ketiga. Pembacaan BWD dilakukan dengan cara menempelkan daun jagung teratas yang sudah sempurna terbuka. Waktu pembacaan sebaiknya sore hari agar tidak terpengaruh dengan cahaya matahari. Adapun dosis pupuk urea berdasarkan BWD dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3.      Cara penentuan dosis pupuk urea dengan menggunakan BWD.
Skala BWD
Dosis Urea
(Kg/ha)
<4
150
4 – 5
125
>5
100
Penyiangan Gulma
Penyiangan dilakukan dua kali selama masa pertumbuhan tanaman jagung. Penyiangan pertama adalah pada umur tanaman 14−20 HST. Penyiangan kedua dilakukan tergantung pada perkembangan gulma.
Pengendalian Hama
Hama Ulat  Grayak
· Gejala               :  Daun berlubang  atau tinggal tulang daunnya.
· Pengendalian  :  Pergiliran tanaman, tanaman serempak, penyemprotan dengan insektisida.
Hama Penggerek Batang
· Gejala               :  Adanya lubang gerekan pada batang dengan kotoran menutupi lubang gerekan.

· Pengendalian    :  Pergiliran tanaman, tanaman serempak, pemangkasan bunga jantan 25%, penyemprotan dengan insektisidacarbofuran dengan dosis 3−4 butir per tanaman melalui pucuk tanaman pada tanaman yang mulai terserang.
Hama Penggerek Tongkol
· Gejalanya          : Adanya lubang-lubang melintang pada daun tanaman stadia vegetatif. Rambut tongkol jagung terpotong, Ujung  tongkol ada bakal gerekan dan sering kali terdapat larvanya.
· Pengendalian    :  menanam varietas jagung yang kelobotnya menutup rapat tongkol dan penyemprotan insektisida.

Pengendalian Penyakit
Penyakit Bulai
· Gejala               :  Khlorose sebagian atau keseluruh helaian daun. Pada permukaan yang khlorose tampak kelompok tangkai konidia berupa tepung putih.
· Pengendalian  : Penggunaan varietas tahan bulai, sistem tanam serempak, aplikasi fungisida berbahan aktif metakasil melaluibiji.
Penyakit Busuk Batang
· Gejala               :  Pangkal batang busuk sehingga bagian atas layu dan mengering. Tongkol yang terserang menjadi busuk sebagian atau seluruhnya.
· Pengendalian    :  Pergiliran tanaman, drainase yang baik, penjarangan populasi, hindari penanaman pada musim hujan serta aplikasi fungsisda efektif.
Panen dan Pascapanen
Jagung yang telah siap panen ditandai dengan daun jagung atau klobot telah kering, berwarna kekuning-kuningan, dan ada tanda hitam di bagian pangkal tempat melekatnya biji pada tongkol. Jagung yang telah dipanen, kemudian dipisahkan antara jagung yang layak jual dengan jagung yang busuk, muda dan berjamur selanjutnya dilakukan proses pengeringan dengan cara dijemur.     Jagung yang tidak langsung dijual dapat disimpan. Penyimpanan jagung untuk benih harus menggunakan wadah yang tertutup rapat sehingga kedap udara dan tidak terjadi kontak dengan udara yang menyebabkan biji jagung menjadi rusak dan menurun daya tumbuhnya.
Oleh Irma Audiah Fachrista dan Isuukindarsyah 

0 Response to "Budidaya Jagung "

Poskan Komentar