Postingan Menarik

Budidaya Jamur Tiram dengan Cara Praktis


Bagai jamur dimusim hujan, begitulah sebuah ungkapan lama. Karena memang pada musim penghujan jamur bermunculan diberbagai tempat. Termasuk kulit . Pada tanaman padi serangan jamur selalu menghantui petani pada musim penghujan seperti ini. Alasan mudah tumbuh dan berkembangnya jamur, yang menjadikan motivasi Pak Petani (selanjutnya saya sebut “Pak Pe”) seorang petani kenalan saya nekad belajar sekaligus praktek membudidayakan jamur Tiram dengan cara yang praktis.

Postingan kali ini dan beberapa artikel selanjutnya akan melaporkan secara rutin perkembangan mingguan proses budidaya jamur tiram. Mulai dari persiapan tempat sampai nanti jamur siap dikonsumsi. Untuk persiapan lahan budidaya, Pak Pe menggunakan kamar kosong ukuran 2x4 meter, yang direncanakan menampung 500 baglog. Tepat menaruh baglog menggunakan bambu karena lebih murah jika dibanding dengan kayu bangunan. Dan untuk baglognya sendiri Pak Pe masih disuplay dari teman yang sudah lama membudidayakan jamur tiram. Dari temannya pula Pak Pe belajar bagaimana membudidayakan Jamur Tiram dengan cara yang praktis.

Tempat budidaya jamur selesai dipasang

 menata baglog jamur tiram 
Menata Baglog

baglog siap berproduksi
 Baglog sudah tertata siap berjamur


Pada postingan selanjutnya akan dibahas bagaimana merawat baglog sampai jamuran 

"1001" Produk Pertanian Unggulan Nganjuk

Semua pasti setuju kalo Kabupaten Nganjuk merupakan kabupaten penghasil beras terbaik, menurut saya dan pada tahun 2013 perolehan hasil panen padi Kabupaten Nganjuk diatas rata-rata hasil panen Jawa Timur (kata PPL). Tapi selain padi sebagai produk unggulannya, banyak produk pertanian lain yang bisa diandalkan dari kabupaten tercinta ini. Hal ini terlihat pada Pameran Produk Pertanian Kabupaten Nganjuk pada bulan November 2014 yang diselenggarakan Dinas Pertanian (postingnya telat banget).
Pada kegiatan pameran itu, yang pesertanya Gapoktan seluruh Nganjuk dipamerkan berbagai produk unggulan dari desa masing-masing mulai dari tanaman buah, palawijo, palapendhem sampai sayur dan dari yang masih mentah sampai yang siap makan semua ada.
Saya sendiri ikut membawa produk unggulan desa Saya, desa Ngadirejo yaitu seperangkat alat pertanian, cuma karena keterbatasan ruang dan waktu, pada kesempatan itu yang saya ikutkan pameran hanya beberapa pisau dan langsung terjual habis!! :). Padahal selain pisau, desa Ngadirejo juga memproduksi alat pertanian lain seperti sabit, cangkul dan mata pisau traktor Rotary.
Ada satu stan lain yang cukup menarik, mereka pamer alat penyemprot serangga modifikasi. katanya sih kualitasnya boleh diadu dan sudah dapat penghargaan tingkat Provinsi.
Nah, ini foto-fotonya silakan disimak.



Waluh unggulan


Pisau Unggulan (yang dipojokan)
 

 Melon Unggulan

beras sehat
Beras Unggulan

beras merah
Beras Pancawarna Unggulan

alat pertanian
 Alat penyemprot Modifikasi Unggulan (dapat Juara)

agen hayati
Agen Hayati Unggulan

penangkap hama pertanian
Penangkap Hama Unggulan

 Mbak Yun, Penyelenggara pelatihan pengolahan hasil pertanian (unggulan juga)

 Dan Masih Banyak produk-produk unggulan lain yang tidak dimuat di postingan ini, dan jumlahnya bisa jadi 1001 macam :)

Polusi Akibat Pertanian Lebih Parah dari Perkiraan

Polusi Akibat Pertanian Lebih Parah dari Perkiraan

Kotoran ternak dan pupuk melepaskan amonia ke atmosfer. Di udara, amonia bercampur dengan emisi lain dan membentuk partikel berbahaya

.

Dari sebuah studi yang didanai oleh NASA, polusi amonia dari sumber-sumber pertanian ternyata menghadirkan dampak kesehatan yang lebih besar dari perkiraan sebelumnya.

Menggunakan pemodelan komputer, termasuk pemodelan reaksi kimia di atmosfer milik NASA, Fabien Paulot dan Daniel Jacob, peneliti asal Harvard University, Amerika Serikat mencoba memahami bagaimana amonia berinteraksi di atmosfer dan membentuk partikel material berbahaya.

Simulasi ini membantu para ilmuwan memperkirakan biaya kesehatan akibat polusi udara terkait produksi makanan untuk ekspor, sebuah sektor pertanian yang terus tumbuh, dan merupakan sumber surplus perdagangan.

"Biaya adalah konsep eknomi untuk mengukur berapa orang bersedia untuk membayar demi menghindari risiko," kata Paulot. "Studi ini digunakan untuk mengetahui biaya yang dibebankan pada masyarakat, tetapi juga mampu mengevaluasi manfaat pencegahan," ucapnya.

Dari riset yang dilakukan Paulot dan Jacob, biaya kesehatan terkait emisi amonia dari ekspor pertanian mencapai 36 miliar dolar AS per tahun (sekitar Rp409 triliun). Angka ini sekitar separuh dari keuntungan yang didapat dari ekspor pertanian.

Dengan kata lain, dari studi yang dilaporkan di jurnal Environmental Science & Technology, setiap kilogram amonia yang dihasilkan, biaya kesehatan yang harus dikeluarkan mencapai 100 dolar AS (sekitar Rp1,136 juta). Sebelumnya, US Environemntal Protection Agency memperkirakan biaya kesehatan yang harus ditanggung akibat 1 kilogram amonia hanya sekitar 47 dolar AS per kilogram.

Kotoran ternak dan pupuk untuk tanaman melepaskan amonia ke atmosfer. Di udara, amonia bercampur dengan emisi lain dan membentuk partikel mikroskopik atau particulate.

Particulate ini menghadirkan risiko kesehatan besar, apalagi mereka yang memiliki ukuran lebih kecil dari 2,5 mikrometer atau sekitar 1/30 lebar rambut manusia. Ia bisa terhirup masuk ke dalam tubuh dan tertimbun jauh di dalam paru-paru. Paparan jangka panjang terhadap particulate ini bisa memicu penyakit paru-paru, jantung, dan bahkan berujung pada kematian.

Sumber :Muhammad Firman http://nationalgeographic.co.id

Benih Ikan Lele Siap Order

benih ikan lele
Bagi petani ikan Lele, yang berdomisili Nganjuk dan sekitarnya. Telah tersedia benih ikan Lele berbagai ukuran. segera hubungi kelompok pembenih ikan "Sumber Hidup" Hp 085259600996. Hendro

Rasa Nasi Beras Hitam

Rasa Nasi Beras Hitam

 padi hitam

Dari yang kubaca tentang manfaat beras hitam, muncul rasa penasaran yang mendalam baik tentang bagaimana rasanya, ada yang menyebut bercitarasa bangsawan dan manfaatnya, katanya dengan beberapa kali mengkonsumsi sudah badan terasa lebih segar.

Satu waktu ada seorang teman, dia adalah penggiat pertanian organik mengatakan mendapat benih padi hitam dari malang. Dan dia menanamnya pada musim kemarau.

Setelah kurang lebih 3,5 bulan. dan padi hitampun siap panen. hasilnya tidak terlalu banyak mungkin karena ditanam pada musim kemarau, juga padi hitam temanku banyak dimakan burung, dari yang saya dengar padi hitam lebih disukai burung.

Akhirnya saya menyempatkan beli beras hitam sebanyak 10 kg. Setelah sampai di Rumah ibu langsung memasak dengan cara seperti ibuku memasak nasi beras putih. dan yang terjadi adalah nasi tetap terasa keras (cenderung tidak matang) meski dimasak lagi selama 10 menit dan ditambah air. Dan rasanya kalo boleh dibilang lebih hambar dari yang aku bayangkan. apa citarasa bangsawan hambar kayak gini ya? Agak sedikit enak jika beras hitam ini dimasak dengan beras putih.

Setelah berbagai cara memasak dilakukan tetap saja ibuku tidak bisa membuat nasi beras hitam jadi pulen, sedap dan wangi, akhirnya beras hitam tersebut digiling dan dimasak sebagai bubur, bisa empuk tapi rasanya kok tetap kurang sedap. baru bisa merasakan enaknya beras hitam ketika tepung beras hitam tadi digunakan sebagai bahan dasar pembuatan Nogosari.

Yang jadi pertanyaan, apa beras hitam yang saya konsumsi bukan dari varietas beras hitam yang punya citarasa "Bangsawan" dengan tekstur yang lembut, pulen dan beraroma wangi?  bahkan ada tetangga yang memvonis bahwa beras hitamku adalah ketan hitam, jika dilihat dari lamanya waktu memasak. Dan ternyata beberapa petani lain yang menanam padi hitam juga mengalami hal serupa. Ataukah memang begitu rasa beras dari padi hitam.

 Sumber gambar  : http://historydistribution.blogspot.com